Indonesia punya banyak tokoh besar yang berperan dalam perjuangan situs bonus new member 100 bebas ip kemerdekaan. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa beberapa di antaranya juga merupakan pendidik hebat yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Dua di antaranya adalah KH Hasyim Asy’ari dan Tan Malaka. Keduanya memiliki latar belakang, pemikiran, dan perjuangan yang berbeda, tetapi sama-sama menempatkan pendidikan sebagai senjata utama dalam membangun bangsa.

KH Hasyim Asy’ari: Ulama Besar, Pendiri NU, dan Guru bagi Bangsa

KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan tokoh penting rtp gacor hari ini dalam sejarah Islam Indonesia. Namun sebelum menjadi pemimpin besar, beliau adalah seorang guru pesantren yang penuh dedikasi.

Beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Indonesia. Gaya mengajarnya sangat menekankan akhlak, kedisiplinan, dan kecintaan pada ilmu, menjadikannya sosok yang dihormati lintas generasi.

Sebagai pendidik, KH Hasyim Asy’ari juga menulis banyak kitab penting tentang pendidikan dan moralitas, seperti Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim yang sampai hari ini menjadi pedoman di berbagai pesantren.

Tidak hanya fokus pada pendidikan, beliau juga berperan besar dalam memperjuangkan kemerdekaan melalui Resolusi Jihad 1945, yang membangkitkan semangat rakyat melawan penjajah. Perpaduan antara peran sebagai guru, ulama, dan pejuang menjadikan KH Hasyim Asy’ari sosok yang sangat dihormati dalam sejarah bangsa.

Tan Malaka: Filsuf, Revolusioner, dan Guru yang Mengajarkan Cara Berpikir

Di sisi lain, Tan Malaka dikenal sebagai tokoh revolusioner dengan pemikiran tajam dan keberanian luar biasa. Namun sebelum menjadi figur politik, ia adalah seorang guru yang sangat mencintai dunia pendidikan.

Tan Malaka pernah menjadi pengajar di berbagai tempat, termasuk di Sumatera dan negara lain. Ia mendorong murid-muridnya untuk berpikir kritis, memanfaatkan logika, dan tidak sekadar menerima informasi. Menurutnya, pendidikan harus membebaskan, bukan membatasi.

Salah satu karya paling terkenal Tan Malaka, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), menjadi salah satu buku pemikiran paling berpengaruh dalam sejarah intelektual Indonesia. Pemikiran tersebut lahir dari pengalamannya sebagai pendidik yang ingin membangun masyarakat rasional, maju, dan berani mengambil keputusan.

Meski perjuangannya sering penuh risiko, ia tetap menekankan bahwa revolusi tanpa pendidikan adalah rapuh, sehingga pendidikan selalu menjadi fondasi dalam setiap gagasannya.

Dua Tokoh, Dua Jalan Berbeda, Satu Visi untuk Bangsa

Walaupun KH Hasyim Asy’ari dan Tan Malaka datang dari latar belakang berbeda—yang satu ulama pesantren dan yang lain pemikir revolusioner—keduanya sepakat bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa.

KH Hasyim Asy’ari mengajarkan pentingnya akhlak, moral, dan keteladanan

Tan Malaka menekankan logika, cara berpikir kritis, dan keberanian intelektual

Dua pendekatan ini saling melengkapi, menunjukkan bahwa Indonesia dibangun oleh berbagai pemikiran besar yang memiliki satu tujuan: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Penutup

Mengenal KH Hasyim Asy’ari dan Tan Malaka adalah cara untuk memahami bahwa guru bukan hanya sosok yang mengajar di kelas, tetapi juga tokoh yang membentuk arah bangsa. Keduanya membuktikan bahwa melalui pendidikan, perjuangan bisa menjadi lebih kuat, terarah, dan berdampak panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *